Pompom Saham Merajalela, Ribuan Investor Ritel Menekan Petisi!

Pompomers atau yang dikenal sebagai sebutan orang yang suka menggiring pembelian saham tertentu, belakangan ini kian meresahkan. Dimana merak seringkali merekomendasikan saham tertentu tanpa adanya disertai dengan analisis fundamental yang cukup menandai. Banyak juga para investor ritel yang dirugikan dengan pompomers saham saat ini melalui berbagai informasi yang disiarkan secara luas di media sosial, layaknya telegram, instagram, sampai dengan facebook.

Pompom Saham

Dimana akun retail bersatu melawan Pom Pon yang membuat petisi daring pada sebuah laman dengan tajuk Ban Pom – pomer Saham di negara Indonesia. Sampai dengan hari Rabu, 3 Februri 2021 siang hari, pukul 12.00 WIB. Petisi ini sudah ditandatangani lebih dari 5.000 orang. Dimana target orang yang menandatangani petisi ini sebanyak 7.500 orang atau kurang dari 2.500 orang lagi. Salah satu yang disorot dalam unggahan petisi ini ialah belvin Tannadi melalyi sebuah akun Telegram miliknya, yaitu ILMUSAHAM. Menurut petisi ini, banyak juga jenis investor ritel yang menjadi korban akibat adanya ulah belvin. Dimana akan tetapi, teriakan para member akibat ilah Belvin di dsalah satu channel Telegram atau Instagramnya. Dimana akan otomatis dikeluarkan dari grupnya sampai tidak ada kesempatan bagi mereka untuk memberikan peringatan kepada member yang baru bergabung.

Belvin Tannadi

Mari sama-sama ini berhasil menandatangani petisi isi dengan harapan bahwa OJK, BEI, dan Bappepti  bisa menaruh perhatian khusus kepada fenomena ini sampai akhirnya praktikyang bisa diberhentikan sebelum semakin banyak masyarakat yang dirugikan.

Dimana akhir ini, banyak orang yang memberikan info saham atau signal saham yang katanya akan mereka beli, melalui telegram, instagram, facebook, dan berbagai media sosial lainnya. Info saham yang bersifat pom-pom tanpa fundamental dan analisis yang jels dan tujuan untuk menggiring opini publik tanpa berpikir secara matang, membeli samham yang sudah dimiliki oleh Pom-Pomers ini.

Cukup banyak orang yang dirugikan dan ratusan juta sampai milyaran yang telah berpindah tangan kepada para influencers. Ketika retail rugi, mereka berdalih bahwa mereka hanya memberikan informasi mengenai saham yang dibeli tanpa bermaksud untuk meminta publik membeli saham ini.

Kenyataannya, tujuan mereka ini bermaksud untuk mendorong harga sagam yang sudah dibeli ke harga bawah dengan adanya bantuan publik.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *