Saham ANTM Hingga INCO Bergejolak, Kenapa?

Perusahaan mobil listrik, Tesla dikabarkan akan menyiapkan fasilitas perakitan atau pabrik mobil listrik di Karnataka, negara bagian barat daya India.

Sentiment ini dianggap memberikan pengaruh terhadap pergerakan saham tambang di Indonesia. Saham emiten sektor tambang emas dan nikel sempat melemah di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat di level 6.230 pada pembukaan perdagangan Kamis 18 Februari 2021.

Namun, saat ini pergerakan saham emiten – emiten tersebut mulai bergerak beragam. Saham emiten PT Harum Energy Tbk (HRUM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terpantau merah, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) melandai dan sisanya menghijau.

  • PT Harum Energy Tbk (HRUM) tercatat -0,7% di level 7.125.
  • PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tercatat naik 3,91% ke level 2.660.
  • PT Timah Tbk (TINS) tercatat naik 1,81% ke level 2.250
  • PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melandai atau tak bergerak 0% di level 2.750
  • PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) melandai atau tak bergerak 0% di level 208
  • PT Vale Indonesia Tbk (INCO) tercatat -0,41% ke level 6.050
  • PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menguat 2,41% ke level 85

Sentiment terkait rencana Tesla bangun pabrik mobil litrik tentu berpengaruh pada pergerakan saham emiten nikel dan tambang mineral lainnya.

Demikian menurut Analis Pasar Modal sekaligus Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee. Karena, nikel dan tambang lainnya merupakan bahan utama dalam pembuatan baterai mobil listrik.

“Pasti berpengaruh tapi pasar saham (emiten nikel dan tambang) kita tidak akan negatif-negatif banget,” ujar Hans kepada detikcom, Kamis (18/2/2021).

Hans menjelaskan meski Tesla benar-benar batal bangun pabrik di Indonesia, komoditas nikel dan tambang dalam negeri tetap akan dipakai oleh Tesla. Sebab, ada optimisme yang kuat bahwa Tesla akan bangun pabrik baterai di dalam Indonesia.

“Dia di Indonesia rencananya kemungkinan hanya akan bangun pabrik dengan kita jadi kalau kita bicara (pabrik) mobilnya mungkin enggak, tapi kalau baterainya iya, karena Indonesia itu selain punya nikel dan getah, kita yang berada di garis khatulistiwa ini menguntungkan buat bangun panel solar,” terangnya.

“Nikel tetap di-demand jadi nggak bakal negatif-negatif amat kecuali nggak ada demand sama sekali, dari awal juga kita nggak yakin Tesla bangun pabrik mobil listrik di sini karena kita nggak punya baja sebanyak India,” tambahnya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *